|
Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara
Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI - XCII. Di
Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan
petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini
dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret
atau awal bulan April. Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan upacara Melasti
atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur
Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal
apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi,
dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi.
Tujuan Hidup
Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan
tujuan agama Hindu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, umat Hindu wajib
mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga
yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam
Brahma Sutra, 228, 45 dan Sarasamuscaya 135.
Menurut agama, tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Tuhan
(Prajapati), manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang
selalu berhubungan berdasarkan yajña. Hal ini tersirat dalam makna
Bhagavadgita III, 10: manusia harus beryajña kepada Tuhan, kepada alam
lingkungan dan beryajña kepada sesama. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar
Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. Yajña ini
dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan.
Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk
mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk
(Bhutahita).
"Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa
prani."
Artinya:
Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak
menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.
"Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur
warga, mâng dharma, artha kama moksha."
Artinya:
Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha,
kama dan moksha.
Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di
antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb:
"Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan
tumbuh-tumbuhan."
Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup
menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah
hujan, dan yajña lahir karena kerja.
Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari
tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan
binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan
lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Upacara Butha Yajña
pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk
senantiasa melestarikan alam lingkungan.
Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan, Brahma berputra tiga
orang yaitu: Sang Siwa, Sang Budha dan Sang Bujangga. Ketiga putra beliau ini
diberi tugas untuk amrtista akasa, pawana, dan sarwaprani. Oleh karena itu,
pada saat upacara Tawur Kesanga, upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang
disebut Tri Sadaka. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur
Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga,
dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. Tujuan upacara Melasti
dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut:
Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana.
Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan
kekotoran alam.
Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah:
Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara.
Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di
tengah-tengah samudra.
Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan
alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah
lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang
samudra kehi-dupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia.
Pada tanggal satu sasih kadasa, dilaksanakanlah brata penye-pian. Brata
penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:
"....enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya
sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh
ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan."
Artinya: "....besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang
tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh,
karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga
menuju kesucian."
Jadi, brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan
sejenisnya, tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. Sedangkan bagi
mereka yang sudah tinggi rohaninya, melakukan yoga tapa dan samadhi. Parisada
Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian
untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni, amati karya, amati lelungan dan
amati lelanguan. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada
umumnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang
menjurus pada kerohanian, pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa, yoga,
samadhi.
Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian
hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan
dharma, artha, kama dan moksha.
Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka
Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya
Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini
dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara
Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan
datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi
umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber
kehidupan.
Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat
pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata
"tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita
ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan
hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma
wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu
berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu
dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur
Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang
perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka
Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh
suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di
dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam
zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan.
Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman
modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif.
Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan
proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat
yang telah meng-khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan
agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala
tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan
masyarakat tertentu.
Pelaksanaan Upacara
Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi.
Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini:
"....manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata."
Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung
pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati
tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang
dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama
menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala
perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk atau
mabuu-buu, dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan.
Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara
Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang
wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar
kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di
India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan
(Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya.
Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berda-sarkan
wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur.
Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan
dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata.
Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.
Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar
merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding,
segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah,
dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat
menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut,
penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk
digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di
bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca
warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak
dan air tawar.
Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang
belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita
dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.
Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan,
dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 - 12.00 (kala tepet).
Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat
sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan
upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat
sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur.
Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa
atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun
1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang
dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh
ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur
kekuatan jahat.
Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari
Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda
yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni
sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak
ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak
mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai
pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa
raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.
Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok
selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu,
ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan
melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas
dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat
siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan
konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.
Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya
Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap
memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya,
pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di
Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali
mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa
dilakukan.
Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali
oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:
- Amati geni
(tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa
(puasa).
- Amati karya
(tidak bekerja), menyepikan indria.
- Amati lelungan
(tidak bepergian).
- Amati
lelanguan (tidak mencari hiburan).
Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan
manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan
yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang
memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada
saat Nyepi itu.
Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan
pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat
melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang
tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau
dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan
melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.
Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum
selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya
kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24
jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai
keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat
suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu
tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak
didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan
terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan.
Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.
|