KETIKA MALAM TIBA

            Aku terdiam menatap malam, melihat segala keindahan malam, seperti yang orang katakana, namun aku tak melihatnya, bagiku malam tetaplah malam, malam yang gelap, malam yang duka ketika aku kehilangan segala yang aku cinta.
            Hari begitu cerah waktu itu, udara yang berhembus membawa kesejukan di bawah sinar mentari. Perasaan berdebar bertemu dengan orang yang di cintai baru kali ini aku rasakan, sangat berdebar  namun aku menyembunyikannya dengan menggigit bibirku. Jane menyenggol bahuku menaanyakan kesiapanku, aku terdiam dan menundukkan kepalaku, aku tahu dia tahu perasaanku, dan dia mengajakku ke sebuah kursi di halaman belakang.

“ Kau harus siap Grace, kali ini waktu hanya memberimu kesempatan sekali”, ucapnya.
“ Grace, aku tahu apa yang kamu rasakan, cobalah untuk semangat dan hadapi yang ada di hadapanmu, kau tidak akan tahu rasanya kalau kau belum mencobanya,” sambungnya.
“ Aku tau Jane, aku harap kali ini ada peri yang datang dan mengabulkan satu saja permintaanku.”
“ Jangan berharap yang tak aka tejadi, peri tak akan datang, karena dia ingin kamu sadar tentang apa  kamu hadapi.”
“ Tapi aku ingin waktu kembali satu hari saja, semua rasanya begitu cepat.”
“ Tenanglah sahabatku, peri masih menyisakan hari esok untukmu, kau bisa memperbaiki kesalahanmu.”
“ Tapi yang terjadi akan berbeda dengan kemarin.”
“ Kau siap ?”
            aku menggelengkan kepalaku, tak akan ada waktu untuk hal ini.
“ Tapi aku memang belum siap.”
“ Kau harus siap.”
            Aku terdiam dan memikirkan segala yang terjadi setelahnya, hingga akhirnya aku memutuskan,
“ Baiklah.”
            Jane menggandeng tanganku menuju ruang depan tempat di mana orang-orang berkumpul untuk mengucapkan perasaannya.
            Aku berlari di putih pasir pantai Sanur, Ray mengejarku sambil membawa sebuah keran, hewan yang sangat aku takuti. Dia berhasil menangkapku namun aku menendang air laut, hingga dia terkena percikannya, pakaiannya basah dan dia pun membalasku. Hari itu begitu indah, diakhiri dengan hangat pelukannya yang hingga kini masih aku rasakan.
            “ Kamu siap?”, Tanya Jane sekali lagi. “ Iya, aku siap,” sahutku sambil menahan air mata dan berharap tak akan jatuh sampai semuanya terjadi.
            Jane membuka kain batik yang terbentang di depanku, kain itu bukanlah menutupi hadiah untukku, bukan juga mahar pernikahan ataupun sebuah kejutan yang belum aku tahu.
            Kain itu menutupi Ray dengan tubuh kakunya, dia tak berkedip melihatku, dia juga tak menatapku seperti yang biasa dia lakukan saat melihatku. Dia hanya terdiam, tanpa ada reaaksi apapun, sedikitpun tubuhnya tidak bergerak, bahkan untuk bernafas pun denyut jantungnya tak terasaa. Semua orang di sekelilingku terdiam, melihat aku tak bisa menahan tangisku, aku terisak dan memeluk tubuh orang yang ku sayangi.
            Selamat jalan Ray, kau akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Selamanya………

By:
 Tim Redaksi MAS GP. COM